Laman

Sabtu, 23 Juli 2011

SITUS BALONG

Oleh: Ferry Riyandika

Situs Balong merupakan suatu situs masa kerajaan Hindhu-Budhha yang terletak di Dusun Balong, Kelurahan Butun, Kecamatan Gandusari, Kabupaten Blitar. Situs ini terletak di kaki Gunung Kelud (Kampud). Candi ini ditemukan oleh warga setempat yang bernama Djoyo yang sedang membuat lubang untuk menanam kelapa. Di Situs Balong dijumpai hasil temuan berupa artefak yang meliputi batu-batu candi yang diantaranya berhias simbar, biasanya batu candi berhias simbar terletak dibagian atap atau pagar langkan candi (Balai Arkeologi Yogyakarta, 1986: 4-5).

Situs Balong mengingatkan akan uraian dari Kitab Nagarakrtagama. Dimana disebutkan adanya tempat karsyan di daerah Butun. Apabila yang tertera di Nagarkrtagama sama dengan lokasi ditemukan candi maka Butun pada masa Kerajaan Majapahit merupakan tempat salah satu Karsyan bagi para rsi, rsi tersebut membuat candi untuk sarana pemujaan terhadap dewa.

(Foto oleh : Balai Arkeologi Yogyakarta, 1986)

Hasil Ekskavasi
(Foto oleh : Balai Arkeologi Yogyakarta, 1986)

Karsyan adalah tempat tinggal atau komunitas para resi (rsi) (Zoetmulder P.J. 1997). Sedangkan Karsyan dibagi menjadi dua bentuk yaitu patapan dan mandala (kadewaguruan). Patapan memiliki arti tempat bertapa, tempat dimana seseorang mengasingkan diri untuk sementara waktu hingga ia berhasil dalam menemukan petunjuk atau sesuatu yang ia cita-citakan. Ciri khasnya adalah tidak diperlukannya sebuah bangunan, seperti rumah atau pondokan. Bentuk patapan dapat sederhana, seperti gua atau ceruk, batu-batu besar, ataupun pada bangunan yang bersifat artificial, misalnya Gua Selomangleng didekat Kadiri dan Tulung Agung, situs Gua Pasir di pegunungan selatan Tulung Agung, dan Keraton Ratu Boko Jawa Tengah. Sedangkan Mandala, atau disebut juga Kadewaguruan. Berbeda dengan patapan, mandala merupakan tempat suci yang menjadi pusat segala kegiatan keagamaan, sebuah kawasan atau kompleks yang diperuntukan untuk para rsi, wiku/pendeta, murid, dan mungkin juga pengikutnya. Mereka hidup berkelompok dan membaktikan seluruh hidupnya untuk kepentingan agama dan nagara. Mandala tersebut dipimpin oleh dewaguru, mereka lebih beradab dibandingkan dengan orang-orang hulun hyang (pemuja roh atau dewa-dewa lokal). Dalam hal ini, antara mandala dan nagara tentunya mempunyai sifat saling ketergantungan. Nagara memerlukan mandala untuk dukungan yang bersifat moral dan spiritual, mandala dianggap sebagai pusat kesaktian, dan pusat kekuatan gaib (Brahmantyo, 1998: 58-101).

Menurut Zoetmulder dalam Kamus Jawa Kuna-Indonesia disebutkan rsi atau resi adalah guru, orang bijaksana, golongan makluk yang khas, dan berbeda dengan dewa yang merupakan orang yang kurang terpengaruh kebudayaan India, walaupun fungsi utamanya tetap sebagai pemimpin agama dan guru bagi orang-orang yang menginginkan kesempurnaan dharma (Zoetmulder P.J. 1997). Rsi di Jawa nama lain dari wanaprastha yaitu mereka yang telah mengundurkan diri kehutan atau tempat yang senyi untuk menjalankan tingkat tingkat hidup yang ketiga (Santiko, 1990: 159). Dalam agama Hindhu di Jawa terdapat empat tingkatan bagi penganutnya yang disebut sebagai caturacrama atau caturacrama yaitu brahmacari (hidup sebagai murid yang mencari bekal spiritual atau pendidikan agama), grhastha (membangun rumah tangga untuk mendapatkan keturunan), wanaprastha (pergi mengundurkan diri ke hutan atau tempat suci untuk mencari jalan kelepasan), sanyasin atau bhiksuka (meninggalkan segala sesuatu, mengembara, hidup tanpa rumah) (Hadiwijino, 2000: 23).

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar