Laman

Jumat, 15 Juli 2011

Situs Petilasan Ken Arok

oleh: Ferry Riyandika

Dalam kisah Kitab Pararaton disebutkan bahwa nama Jiput merupakan sebuah desa tempat lahirnya pemuda yang bersedia menjadi korban untuk pintu gerbang asrama Mpu Tapawangkeng di Bulalak agar dijelmakan ke timur Kawi yang selanjutnya akan menurunkan anak bernama Ken Angrok (Padmapuspita, 1966: 47). Dimanakah letak Desa Djiput?

Alih-alih di daerah Blitar terdapat sebuah petilasan Ken Arok. Pada bulan November tahun 2009 akhirnya saya meluncur dan mencari keletakan petilasan tersebut. Tidak susah untuk mendapatkannya,ternyata petilasan tersebut kini berada di Desa Jiwut, Kecamatan Nglegok, Kabupaten Blitar. Nama Desa Jiwut (Djiwut) tidak menutup kemungkinan dahulu bernama Djiput.

Menurut penuturan warga setempat masih percaya bahwa Desa Jiwut merupakan tempat petilasan dari seorang tokoh yang bernama Ken Angrok. Khususnya di  Dusun Lumbung, Desa Jiwut pernah terdapat beberapa tinggal-tinggalan arkeologis berupa makara, jaladwara dan batu andesit yang berbentuk seperti piramida (Knebel, 1908: 75-76).


Menurut penuturan warga setempat yang terletak di Dusun tersebut bahwa dahulu diyakini sebagai tempat bekas petilasan Ken Angrok dan memberitahukan dahulu terdapat tumpukan balok batu bata kuno besar-besar di tempat bekas petilasan tersebut namun sayang sekali keberadaanya sekarang sudah hancur dan beralih menjadi tempat ladang penduduk. Sedangkan sisa batu batanya hancur karena termakan usia dan hancur karena hujan.


Sedangkan di pemakaman umun Dusun Klampok yang berbatasan langsung dengan Dusun Lumbung ditemukan tinggalan-tinggalan berupa beberapa balok batu bata kuno, umpak dan beberapa lumpang yang berserakan di pinggir pemakaman hingga di parit luar pemakaman. Menurut penuturan warga Dusun Klampok bahwa sejak dari dahulu lumpang tersebut sengaja di taruh atau dibuang di pemakaman guna untuk menghindari dari alamat tidak baik bila memiliki keturunan yang banyak.


Selain itu juga sebuah pelipit arca pecahan dari Prasasti Kinwu yang dituliskan di balik arca Ganesha keberadaanya telah ditemukan kembali di Dusun Klampok, Desa Jiwut (Suhadi, e.a, 1996: 30).

Nama Mpu Tapawangkeng juga disebut dalam Kitab Tantu Panggelaran. Di beritakan bahwa Mpu Tapawengkeng bersama kedua mpu lainnya yaitu Mpu Tapapelet dan Mpu Barang sedang membuat dan mengukir "kancana" dari emas denga rupa mirip seperti Bhatara Wisnu. Setelah selesai membuat benda tersebut, raja dari Daha yaitu Maharaja Taki menginginkan benda tersebut. Akhirnya ketiga Mpu ini diundang di Daha dan menyerahkan benda tersebut kepada sang prabu (Piqeaud, 1924: 116-117). Jadi Mpu Tapawengkeng merupakan salah satu pejabat terhormat di Daha.

Selain itu dalam uraian Tantu Panggelaran disebutkan bahwa Permaisuri Maharaja Taki di Daha sedang mengandung, pada saat itu juga diberitakan bahwa Sang Hyang Ciwahaditya memiliki hutang laksa kepada Raja Taki, namun pada saat menagih hutang sang Hyang Ciwahaditya marah dan memberi perak kepada raja, hal ini diketahui oleh permaisurinya. Akhirnya pada saat melahirkan keluarlah anak yang berwujud sapi yang berwarna "Bulalak" (perak). Permaisuri akhirnya ditendang oleh sang prabhu. Anaknya yang berwujud Sapi tersebut meninggalan Daha bersama Samget Bhaganjing. Bhatari Cri bersumbah bahwa akan ada seorang ratu wanita yang akan menguasai seluruh Nusa Jawa dan di Daha (Piqeaud, 1924: 118-119).

Pada uraian selanjutnya disebutkan bahwa anak yang berwujud sapi tersebut mengembara hingga ke Mandala Bhulalak tempat Mpu Tapawangkeng yang letaknya jauh dari Daha. Adapun alasan pergi ke Mandala Bhulalak adalah untuk berobat (Piqeaud, 1924: 121-122).

Apabila uraian dari Kitab Tantu Panggelaran kita sejajarkan dengan Kitab Pararaton hasilnya memiliki kesamaan, yaitu:
1. Nama Mandala Bhulalak tempat Mpu Tapawangkeng dalam Kitab Tantu Panggelaran
letaknya sama dengan apa yang diberitakan oleh Kitab Pararaton.
2. Makna dari pengorbanan seorang pemuda dalam Kitab Pararaton memiliki persamaan
dengan uraian dalam Kitab Tantu Panggelaran bahwa anak yang berwujud sapi pergi
ke Mandala Bhulalak bertujuan untuk berobat dalam arti adalah "Ruwatan"
3. Diberitakan dalam uraian Kitab Pararaton bahwa pemuda tersebut memiliki tingkah
laku tidak baik dan memutuskan tali kekang kesusilaan, dan menjadi gangguan
Hyang yang gaib (Padmapuspita, 1966: 47) memiliki persamaan arti dari uraian
Kitab Tantu Panggelaran dengan anak yang berwujud hewan (sapi).
4. Diberitakan bahwa anak yang berwujud sapi tersebut diusir dari Daha oleh ayahnya
sama halnya dengan Pemuda yang memiliki ibu saja hal ini bisa "janda".
5. Dalam Kitab Tantu Panggelaran perjalanannya Anak berwujud sapi tersebut menjurus
ke timur hingga sampai di Mandala Kawi, setelah itu kebarat menuju ke Mandala
Dupaka dan berakhir di Mandala Bhulalak (Piqeaud, 1924: 121). Dalam uraian Kitab
Pararaton diberitakan bahwa sebelum menuju Bhulalak, Pemuda tersebut berada dari
Djiput (Djiwut) yang hingga sekarang masih tersisa tinggalannya. Jadi Mandala
Bhulalak tempatnya harus di cari di sebelah barat Kawi.
6. Dalam Kitab Pararaton dijelaskan bahwa Ken dedes akan menurunkan raja-raja Jawa
hal ini sama dengan apa yang diberitakan dalam Kitab Tantu Panggelaran tentang
kutukan Bhatari Sri akan adanya ratu yang menguasai Nusa Jawa dan Daha.

Dari persamaan uraian dari kedua Kitab karya sastra tersebut maka pengorbanan yang dimaksudkan dalam Pararaton adalah ruwatan atau pengobatan yang diberitakan dalam Tantu Panggelaran. Selanjutnya Pararaton menyebutkan bahwa Pemuda tersebut menjelma menjadi seorang tokoh yang bernama Ken Arok di Timur Kawi.

Dari uraian diatas kiranya kita berpikir sejenak dari mana asal Ken Arok? dari gambaran diatas bahwa dia berasal dari Daha yang mengusi ke Barat Kawi dan menjadi besar atau raja di Timur Kawi. Jadi Ken Arok adalah anak dari penguasa di Daha.

dari Petilasan Ken Arok inilah kita mengetahui siapa Ken Arok, namun kini asal Ken Arok menuju karir lebih besar yaitu nasibnya tinggal kenangan tanpa ada perawatan dan terlupakan oleh sang waktu.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar